Metode Pengajaran dalam Sistem Pendidikan Islam
Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan adalah dengan mentransfer pemikiran. Pemikiran yang dimaksudkan di sini bukanlah sekedar mentransfer informasi atau pengetahuan. Tetapi yang dimaksud dengan pemikiran adalah kemampuan untuk menyerap fakta dengan menggunakan alat indra yang dimiliki ke dalam otak, yang kemudian oleh otak diinterpretasikan sesuai dengan informasi yang terkait, dan akhirnya bisa ditetapkan hukum/ status atas fakta tersebut.
Dalam proses pengajaran, harus terdapat timbal balik antara penyampaian dan penerimaan pemikiran dari pengajar kepada pelajar. Oleh karena itu, seorang pengajar/ guru ketika mentransfer pemikiran dan pengetahuan yang dia miliki kepada siswa harus memperhatikan segala aspek yang melingkupi, termasuk bahasa yang dia gunakan hendaknya disesuaikan dengan kapasitas berpikir siswanya.
Bahasa memang instrumen yang paling penting dalam mentransfer pemikiran, baik itu pemikiran yang berhubungan dengan pandangan hidup ataupun tidak. Secara umum bahasa memiliki tiga fungsi strategis ;(1) bahasa sebagai media pembelajaran segala mata pelajaran di sekolah, (2) bahasa sebagai pentransfer alat berpikir, dan (3) bahasa sebagai alat komunikasi. Dan dalam pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas berpikir, menyiapkan siswa agar mampu bersosialisasi dan berkomunikasi secara fungsional dalam lingkungannya, dan mengambil peran di dalamnya, tentu penguasaan bahasa merupakan dasar bagi keberhasilan pendidikan sebagai proses maupun pendidikan sebagai hasil. Oleh karena itu, penguasaan bahasa diperlukan oleh setiap pengajar. Dan jika itu berkaitan dengan pengetahuan (bukan sastra), hendaknya pengajar menyampaikan pemikiran dalam bahasa yang memiliki makna-makna jelas yang bisa dipahami anak, bukan metafora.
Selain itu, penting ketika mentransfer pemikiran, pengajar mendekatkan materi pelajaran yang dia ajarkan dengan realitas. Bahkan lebih dari itu, seorang pengajar hendaknya mendorong peserta didiknya untuk selalu peka terhadap realitas yang terjadi. Sehingga pemikiran yang terbentuk nantinya adalah pemikiran-pemikiran yang bersandar pada kenyataan(baik kenyataan itu bisa diindra secara langsung ataupun dengan sesuatu yang bisa ditunjukkan dengan indra). Dengan kata lain, pemikiran itu aplikatif/ bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan khayali.
Silakan Memberi Komentar leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.



Comments
No comments yet.
Leave a comment