<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Pendidikan Islam</title>
	<atom:link href="http://pendidikan-islam.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendidikan-islam.com</link>
	<description>Mencetak generasi cerdas, bertaqwa, dan berjuang  bagi kemajuan peradaban</description>
	<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 00:25:18 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Seminar Nasional Pendidikan</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/seminar-nasional-pendidikan.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/seminar-nasional-pendidikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 10:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[dunia pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[lembaga pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[liberalisasi pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 31 Mei 2009 telah diadakan sebuah Seminar Nasional Pendidikan. Seminar tersebut mengambil tema “Visi Pendidikan untuk Kebangkitan Indonesia dalam Menghadapi Globalisasi Ekonomi, Politik, dan Budaya”. Seminar tersebut diselenggarakan di Kota Malang.
Berikut adalah bagian dari “Executive Summary” kegiatan tersebut. Saya kira tidak ada salahnya saya post kan di blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu tepatnya pada tanggal 31 Mei 2009 telah diadakan sebuah Seminar Nasional Pendidikan. Seminar tersebut mengambil tema <em>“Visi Pendidikan untuk Kebangkitan Indonesia dalam Menghadapi Globalisasi Ekonomi, Politik, dan Budaya”</em>. Seminar tersebut diselenggarakan di Kota Malang.</p>
<p>Berikut adalah bagian dari “Executive Summary” kegiatan tersebut. Saya kira tidak ada salahnya saya post kan di blog ini, disamping itu juga saya sebagai salah satu tim penyusunnya. Selamat membaca.<span id="more-79"></span></p>
<p><em>“Semakin meningkatnya pembangunan dan perubahan di berbagai sektor kehidupan, telah menuntut tersedianya cukup sumber daya manusia yang berkualitas utuh, mampu menjawab tantangan dan tuntutan zaman, tangguh, teguh dalam idealisme, tanpa harus kehilangan eksistensi kemanusiaannya. </em></p>
<p><em>Syarat “berkualitas utuh” menjadi semakin penting, apalagi ketika ada kecenderungan menjauhkan nilai-nilai moral-transendental. Akibatnya sering terjadi –dengan atas nama pembangunan- nilai-nilai moral spiritual sering dimentahkan oleh hasil-hasil dan akses pembangunan material. Karena itu pembangunan sumber daya manusia dengan segala dimensinya memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak.</em></p>
<p><em>Pendidikan merupakan pondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia. Ironisnya, pendidikan juga telah terbukti sebagai sebuah industri yang sangat menguntungkan, dan siap dinegosiasikan (ripe to negotiate) sebagai sebuah komoditas dalam arus perdagangan internasional. &#8220;Trade in higher education is a million dollar business &#8230;&#8221; (UNESCO, 2001); Rapidly growing, however, is the private &#8216;education industry&#8217; &#8230; this currently generates around $100 billion in the US alone &#8230;&#8221; (Education International, 2000). Konsekuensi dari paradigma ini, pendidikan tidak lagi di bawah kendali UNESCO melainkan mengacu pada aturan organisasi perdagangan internasional (WTO) dengan adanya (GATS) General Agreement on Trade in Service. Artinya pendidikan pun dijadikan sebagai barang komersial yang dapat diperjualbelikan sesuai dengan logika perdagangan ala WTO. Kondisi inilah yang menjadi pintu pembuka bagi arus globalisasi-liberalisasi di bidang pendidikan.</em></p>
<p><em>Liberalisasi sektor pendidikan dilegitimasi dengan kemunculan Kebijakan Otonomi Kampus, UU Sisdiknas, Kebijakan BHMN (Badan Hukum Milik Negara), RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan) dan Perpres No. 76 dan 77 Tahun 2007. Inilah alat legitimasi masuknya institusi-institusi pendidikan asing yang bakal masuk ke tanah negeri ini. Masuknya institusi-institusi pendidikan asing ini adalah upaya nyata dalam memasukkan kapitalisme internasional yang ingin menginvestasikan modalnya di dunia pendidikan, karena memang hanya di ruang inilah yang belum 100 % terekploitasi oleh kapitalisme internasional. Proses eksploitasi yang akan dilakukan lewat masuknya institusi-institusi pendidikan asing adalah dengan menerapkan bentuk baru institusi yang akan disertai dengan mahalnya biaya pendidikan ini secara otomatis menjadikan pendidikan sebagai komoditas baru dalam mengeruk keuntungan.</em></p>
<p><em>Keberadaan lembaga-lembaga asing yang menginvestasikan modalnya dalam bidang pendidikan memang sah adanya. Aturan yang mengesahkan keberadaan mereka antara lain adalah UU No 20/2003, pasal 53 tentang BHP, RUU BHP dalam Pasal 6 ayat (1) RUU BHP , pasal 36 Ayat (1) RUU BHP: ”pendanaan awal sebagai investasi pemula untuk pengoperasian Badan Hukum Pendidikan Dasar dan Menengah (BHPDM) berasal dari masyarakat maupun hibah, baik dari dalam atau luar negeri.” Diakui atau tidak, investor mempunyai hak dalam pengaturan manajemen lembaga dimana dia menanamkan modal. Dalam lembaga pendidikan, mulai dari peletakan filosofi pendidikan, penyusunan kurikulum, materi ajar, kualifikasi pengajar, proses belajar mengajar hingga budaya sekolah/kampus tidak lepas dari pengaturan investor.</em></p>
<p><em>Dengan demikian, harus ada upaya antisipasi dari semua pihak untuk melakukan proteksi terhadap adanya bahaya konspirasi yang masuk atas nama globalisasi investasi. Gelombang liberalisasi dan kapitalisasi di semua bidang, termasuk pendidikan, bisa memberikan dampak negatif bagi perkembangan bangsa ke depannya. Karena pendidikan memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga eksistensi suatu Negara. Karena hanya lewat pendidikanlah “pentransferan” atau pembelajaran mengenai budaya dan nilai-nilai luhur suatu bangsa diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya”</em></p>
<p>Seminar Nasional Pendidikan tersebut di selenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang Raya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/seminar-nasional-pendidikan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Kafir Dzimmi dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/posisi-kafir-dzimmi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/posisi-kafir-dzimmi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 23:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>

		<category><![CDATA[sistem pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Kafir dzimmi adalah warga negara daulah khilafah islamiyah yang tetap dalam keyakinan mereka. Bagi kafir dzimmi yang mau menunjukkan ketundukan dan mau diatur dalam sistem masyarakat islam, akan dilindungi hak dan darahnya.
Sebagaimana warga negara yang lain, kafir dzimmi juga mendapatkan pelayanan yang serupa dan sama baiknya. Tidak ada pembedaan antara muslim ataupun tidak dalam hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kafir dzimmi adalah warga negara daulah khilafah islamiyah yang tetap dalam keyakinan mereka. Bagi kafir dzimmi yang mau menunjukkan ketundukan dan mau diatur dalam sistem masyarakat islam, akan dilindungi hak dan darahnya.</p>
<p>Sebagaimana warga negara yang lain, kafir dzimmi juga mendapatkan pelayanan yang serupa dan sama baiknya. Tidak ada pembedaan antara muslim ataupun tidak dalam hal pelayanan kesehatan, pendidikan, ataupun yang lain.<br />
<span id="more-76"></span><br />
Dalam masalah pendidikan, seorang anak kafir dzimmi duduk di bangku sekolah dan belajar bersama-sama dengan siswa muslim. Mereka mendapatkan materi pelajaran yang sama dengan siswa manapun. Ketika siswa muslim belajar matematika, begitupun mereka. Ketika siswa muslim belajar ilmu pengetahuan alam dan ketrampilan, begitu juga dengan mereka. Dan ketika siswa muslim belajar tsaqafah islam dan hukum-hukumnya, siswa kafir dzimmi itupun mendapatkan pelajaran yang sama.</p>
<p>Memang, bisa jadi saat belajar tentang tsaqafah dan hukum-hukum islam akan terdapat pertarungan pemikiran pada siswa tadi. Jika hidayah itu datang padanya, maka siswa tadi bisa jadi akhirnya memilih menjadi muslim. Pendidikan memang salah satu cara dakwah yang paling efektif, mengenalkan islam sejak dini kepada manusia.</p>
<p>Tetapi seandainya siswa tadi memilih tetap pada keyakinannya pun, negara akan membiarkan. Tidak ada paksaan dari siapapun untuk memilih agama dan keyakinan. Masing-masing ada pertanggungjawabannya. Siswa tadi akan mempelajari hukum-hukum islam sebagai pengetahuan bagaimana semestinya hukum-hukum islam diterapkan. Dia belajar sebagaimana saat ini siswa-siswi kaum muslimin mempelajari bagaimana sistem hukum sekuler yang saat ini diterapkan pada mereka (baca:kita). Makanya tidak mengherankan pada saat khilafah ditegakkan, bisa didapati adanya orang non-muslim yang sangat faqih terhadap hukum-hukum islam dengan pemahaman yang benar. Sebagaimana Salim Al Baz, seorang kafir dzimmi, yang telah mensyarah(memberikan penjelasan) terhadap Al Majalah(Al AhkamAl ’Adliyah), yaitu perundang-undangan yang lahir dari hukum-hukum islam yang berlaku pada masa khilafah Ustmaniyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/posisi-kafir-dzimmi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Pengantar dalam Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/bahasa-pengantar-dalam-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/bahasa-pengantar-dalam-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 22:49:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Seluruh program dalam sistem pendidikan Islam berasaskan pada aqidah Islam. Dan untuk memperoleh hasil yang maksimal, yaitu bersatunya kaum muslimin dengan ideologi Islam, maka bahasa sebagai sarana untuk memahami ajaran Islam merupakan hal yang mutlak perlu diperhatikan.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan sarana yang sangat penting untuk menguasai aspek-aspek tsaqafah Islam, terutama berkaitan dengan Al [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seluruh program dalam sistem pendidikan Islam berasaskan pada aqidah Islam. Dan untuk memperoleh hasil yang maksimal, yaitu bersatunya kaum muslimin dengan ideologi Islam, maka bahasa sebagai sarana untuk memahami ajaran Islam merupakan hal yang mutlak perlu diperhatikan.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan sarana yang sangat penting untuk menguasai aspek-aspek tsaqafah Islam, terutama berkaitan dengan Al Qur-an Al karim dan Sunnah Rasulullah saw. Dan keduanya diwahyukan dan ditulis dalam bahasa Arab.<span id="more-74"></span></p>
<p>Korelasi inilah yang menjadi sebab seorang muslim, baik orang Arab maupun nonArab harus mempelajari bahasa Arab tersebut. Bahkan Imam Syafi’iy menjelaskan dalam Ar Risalah fil ‘ilmil Ushul menyatakan: “Allah swt. mewajibkan seluruh umat untuk mempelajari lisan Arab dengan tekun dan sungguh-sungguh agar dapat memahami kandungan yang terdapat di dalam Al Quran dan untuk beribadah”.</p>
<p>Dalam fakta lain yang terjadi pada masa Rasulullah saw., yaitu ketika Rasulullah menjadi kepala negara Islam ternyata telah menggunakan bahasa Arab dalam surat menyurat dengan raja-raja dan penguasa di luar Madinah. Rasulullah saw. mengirim surat mengajak untuk masuk ke dalam Islam kepada Raja Kisra di Persia, Mauqauqis di Mesir, Kaisar Heraklius di Romawi, dan para penguasa lainnya di sekitar jazirah Arabia dengan menggunakan bahasa Arab. </p>
<p>Padahal pada saat itu sangat dimungkinkan Rasulullah mengirim surat-surat tersebut menggunakan bahasa para penguasa tersebut karena terdapat para sahabat yang mampu untuk menerjemahkan isi surat yang dikirimkan tersebut ke dalam bahasa yang dituju (nonArab). </p>
<p>Mengapa Rasulullah tidak menggunakan bahasa mereka dalam surat-surat yang dikirimkannya, padahal mereka bukanlah orang-orang Arab? Begitu pula Rasulullah tidak menerjemahkan surat-surat tersebut, padahal hal tersebut sangat penting untuk berdakwah? Hal ini menjadi suatu bukti bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan yang khusus sebagai alat komunikasi, baik dengan orang Arab ataupun nonArab.</p>
<p>Berdasarkan hal ini maka bahasa pendidikan dalam sistem pendidikan Islam digunakan bahasa Arab, sehingga bahasa Arab menjadi bahasa keilmuan (bahasa ilmiah), sebagaimana bahasa Inggris pada saat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/bahasa-pengantar-dalam-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kewajiban Siswa/Murid dalam Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/kewajiban-siswamurid-dalam-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/kewajiban-siswamurid-dalam-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 23:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Siswa]]></category>

		<category><![CDATA[kewajiban siswa]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan proses belajar mengajar, tidak hanya bergantung pada bagaimana guru mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Karena pendidikan berhadapan dengan manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan berjalan dua arah, maka keberhasilan proses juga ditentukan oleh kondisi sikap dan perilaku siswanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya ground rule bagi siswa untuk menunjang keberhasilan proses belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberhasilan proses belajar mengajar, tidak hanya bergantung pada bagaimana guru mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Karena pendidikan berhadapan dengan manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan berjalan dua arah, maka keberhasilan proses juga ditentukan oleh kondisi sikap dan perilaku siswanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya ground rule bagi siswa untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.</p>
<p>Adapun beberapa kewajiban siswa yang harus diperhatikan saat dia mulai menuntut ilmu disajikan sebagai berikut.<br />
<span id="more-71"></span><br />
1.Sebelum mulai belajar, siswa harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat yang buruk, sebab belajar dan mengajar merupakan ibadah. Ibadah tidak sah kecuali dengan hati yang bersih, berhias dengan akhlak yang baik, ikhlas, bertaqwa, rendah hati, dan menjauhi sifat-sifat buruk.</p>
<p>2.Belajar dimaksudkan untuk mengisi jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan maksud menyombongkan diri, berbangga, dll.</p>
<p>3.Bersedia untuk mencari ilmu dan meninggalkan keluarga, tempat kelahiran, dan bepergian ke tempat yang jauh sekalipun untuk mendatangi guru.</p>
<p>4.Tidak terlalu sering menukar guru.</p>
<p>5.Hendaklah ia menghormati guru dan memuliakannya dan berdaya upaya untuk menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.</p>
<p>6.Tidak merepotkan guru dengan terlalu banyak pertanyaan, jangan meletihkan dia untuk menjawab, tidak berjalan di hadapannya, dan tidak mulai bicara kecuali dengan izinnya.</p>
<p>7.Tidak membuka rahasia kepada guru, tidak menipunya, dan sebaliknya tidak pula guru membukakan rahasia, diterima pernyataan maaf guru jika ia bersalah.</p>
<p>8.Bersungguh-sungguh dan tekun belajar untuk memperoleh pengetahuan.</p>
<p>9.Terjalin jiwa saling mencintai dan menyayangi antara guru dan murid.</p>
<p>10.Siswa harus terlebih dahulu memberi salam kepada guru.</p>
<p>11.Siswa mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh. Waktu antara Isya dan makan sahur adalah waktu yang penuh barakah.</p>
<p>12.Bertekad belajar sampai akhir usia, tidak meremehkan satu cabang ilmu, tetapi hendaklah menganggap semua cabang ilmu berfaedah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/kewajiban-siswamurid-dalam-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Sifat-Sifat Guru Yang Diharapkan Dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/bagaimana-sifat-sifat-guru-yang-diharapkan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/bagaimana-sifat-sifat-guru-yang-diharapkan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 22:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Guru]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Islam, kedudukan seorang guru sangatlah mulia. Dan oleh karena itu pula sudah selayaknya seorang guru juga menjaga kemuliaan dirinya. Ada beberapa sifat yang harapannya bisa menjadi sifat bagi semua guru.
1.Zuhud dalam arti tidak mengutamakan materi, dan mengajar karena mencari keridlaan Allah semata. Berkaitan dengan inilah maka kewajiban negara untuk memberikan penghidupan yang layak bagi para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Islam, kedudukan seorang guru sangatlah mulia. Dan oleh karena itu pula sudah selayaknya seorang guru juga menjaga kemuliaan dirinya. Ada beberapa sifat yang harapannya bisa menjadi sifat bagi semua guru.<span id="more-68"></span></p>
<p>1.Zuhud dalam arti tidak mengutamakan materi, dan mengajar karena mencari keridlaan Allah semata. Berkaitan dengan inilah maka kewajiban negara untuk memberikan penghidupan yang layak bagi para guru dengan seluruh fasilitas kehidupan yang memadai.</p>
<p>2.Kebersihan guru harus senantiasa dijaga. Artinya seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari perbuatan maksiat, dosa, dan kesalahan. Bersih jiwanya, terhindar dari dosa besar, sifat riya’, dengki, permusuhan, perselisihan dan sifat-sifat lain yang tercela. Rasulullah saw. bersabda: “<em>Rusaknya umatku karena dua macam manusia, yaitu seorang alim yang durjana dan seorang shaleh yang jahil, orang yang paling baik adalah ulama yang baik dan orang yang paling jahat adalah orang-orang yang bodoh</em>”</p>
<p>3.Ikhlash dalam pekerjaan. Keikhlasan dan kejujuran merupakan kunci bagi keberhasilan seorang guru dalam menjalankan tuganya. Ikhlas artinya sesuai antara perkataan dan perbuatan, melakukan apa yang ia katakan dan tidak malu untuk menyatakan ketidaktahuan. Seorang alim adalah orang yang selalu merasa harus menambah ilmunya dan menempatkan dirinya sebagai pelajar untuk mencari hakikat, di samping itu ia ikhlas terhadap murid dan menjaga waktunya. Tidak ada halangan seorang guru belajar dari muridnya, karena seorang guru dalam pendidikan Islam adalah seorang yang rendah hati, bijaksana, tegas dalam kata dan perbuatan, lemah lembut tanpa memperlihatkan kelemahan, keras tanpa memperlihatkan kekasaran.</p>
<p>4.Pemaaf. Ia sanggup untuk menahan kemarahan, menahan diri, lapang hati, sabar, dan tidak pemarah.</p>
<p>5.Seorang guru merupakan bapak/ibu, saudara, dan sahabat sebelum ia menjadi guru</p>
<p>6.Seorang guru harus mengetahui tabiat murid</p>
<p>7.Menguasai materi pelajarannya.</p>
<p>8.Kreatif dalam memberikan pengajaran kepada siswanya, sehingga siswa mudah dalam menerima transfer pemikiran yang diberikan.</p>
<p>9.Harus menaruh kasih sayang terhadap murid dan memperhatikan mereka seperti terhadap anak sendiri.</p>
<p>10.Memberikan nasihat kepada murid dalam setiap kesempatan.</p>
<p>11.Mencegah murid dari akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran, terus terang, halus dengan tidak mencela.</p>
<p>12.Guru harus memperhatikan tingkat kecerdasan muridnya dan berbicara dengan mereka dengan kadar akalnya, termasuk di dalamnya berbicara dengan bahasa mereka.</p>
<p>13.Tidak menimbulkan kebencian pada murid terhadap suatu cabang ilmu yang lain.</p>
<p>14.Guru harus mengamalkan ilmu dan selarasnya kata dengan perilaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/bagaimana-sifat-sifat-guru-yang-diharapkan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Guru dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/guru-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/guru-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 00:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Guru]]></category>

		<category><![CDATA[guru]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Para ulama telah menulis banyak kitab untuk menjelaskan mengenai kewajiban dan hak para guru dan siswa, serta sifat-sifat yang harus dimiliki oleh keduanya dalam proses belajar mengajar. An Nimari Al Qurthubiy misalnya telah menulis dalam kitabnya Jami’ bayaanil ‘ilmi wa fadhlih mengenai perilaku guru dan siswanya, begitu pula Imam Al Ghazali dalam kitab Fatihatul ‘Ulum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para ulama telah menulis banyak kitab untuk menjelaskan mengenai kewajiban dan hak para guru dan siswa, serta sifat-sifat yang harus dimiliki oleh keduanya dalam proses belajar mengajar. An Nimari Al Qurthubiy misalnya telah menulis dalam kitabnya Jami’ bayaanil ‘ilmi wa fadhlih mengenai perilaku guru dan siswanya, begitu pula Imam Al Ghazali dalam kitab Fatihatul ‘Ulum dan Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang sifat-sifat kesucian, penghormatan, dan menempatkan guru langsung berada setelah kedudukan para nabi.<br />
<span id="more-65"></span><br />
Rasulullah saw. bersabda: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Begitu pula seorang penyair Arab, Syauqiy bek mengakui pula tentang nilai seorang guru dengan pernyataannya: “Berdiri dan hormati guru dan berilah ia penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.</p>
<p>Guru merupakan spiritual father bagi siswanya. Hal ini disebabkan guru memberikan bimbingan jiwa siswanya dengan ilmu, mendidik dan meluruskan akhlaknya. Menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang. Bahkan Abu Dardaa melukiskan hubungan guru dan murid itu sebagai pertemanan dalam kebaikan dan tanpa keduanya maka tidak ada kebaikan.</p>
<p>Terdapat sebuah perbandingan, pada abad pertengahan seorang guru di sekolah-sekolah Barat telah diperlakukan dengan sifat keras dan kasar. Ia harus bersumpah di hadapan dekan untuk taat pada atasan, menjalani peraturan-peraturan yang dibuat universitas, bersedia dianggap tidak datang serta membayar denda dalam jumlah tertentu jika perkuliahannya tidak dihadiri oleh 5 orang mahasiswa. Selanjutnya mahasiswa pun diwajibkan untuk melaporkan jika guru/dosennya tidak hadir tanpa izin.</p>
<p>Sementara pada masa yang sama para dosen di sekolah/institut Islam mendapat perlakuan yang baik, disucikan, dihargai, dilayani dengan penuh penghormatan. Ia mendapatkan kedudukan mulia dan kebebasan dalam mengajar, dalam memilih subjek dan waktu untuk memberikan kuliah, serta jumlah jam kuliah yang menjadi kewajibannya. Dan sekarang, bagaimana posisi guru-guru kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/guru-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi dan Arah Perkembangan Iptek dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/strategi-dan-arah-perkembangan-iptek-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/strategi-dan-arah-perkembangan-iptek-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 00:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Strategi Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[sistem pendidikan islam]]></category>

		<category><![CDATA[strategi dan arah perkembangan iptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:

1.Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’, dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:<br />
<span id="more-63"></span><br />
1.Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.</p>
<p>2.Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.</p>
<p>3.Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.</p>
<p>4.Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.</p>
<p>5.Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan  dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri. </p>
<p>Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM (Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya.</p>
<p>Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan.</p>
<p>Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan  co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut maka musti diawali dengan revolusi pemikiran  (Taghyiir al Afkaar) dan pemahaman manusia terhadap Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/strategi-dan-arah-perkembangan-iptek-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Paradigma Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/paradigma-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/paradigma-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 23:36:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Paradigma Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[paradigma pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa paradigma dasar bagi sistem pendidikan dalam kerangka Islam:
1.Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir islami) dan nafsiyah islamiyah (pola sikap yang islami).
2.Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa paradigma dasar bagi sistem pendidikan dalam kerangka Islam:</p>
<p>1.Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir islami) dan nafsiyah islamiyah (pola sikap yang islami).</p>
<p>2.Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).<span id="more-58"></span></p>
<p>3.Pendidikan ditujukan dalam kaitan untuk membangkitkan dan mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek yang buruknya.</p>
<p>4.Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw. merupakan figur sentral keteladanan bagi manusia. Al quran mengungkapkan bahwa “<em>Sungguh pada diri Rasul itu terdapat uswah (teladan) yang terbaik bagi orang-orang yang berharap bertemu dengan Allah dan hari akhirat</em>”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/paradigma-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perguruan Tinggi dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/perguruan-tinggi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/perguruan-tinggi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 23:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jenjang Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Periode Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[perguruan tinggi]]></category>

		<category><![CDATA[sistem pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Pada jenjang PT tentu saja dibuka berbagai jurusan, baik dalam cabang ilmu keislaman, ataupun jurusan lainnya, seperti teknik, kedokteran, kimia, fisika, sastra, politik dll. sehingga peserta didik dapat memilih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. 
Dari model sistem pendidikan Islam seperti inilah maka kekhawatiran akan munculnya dikotomi ilmu agama dan ilmu duniawi tidak akan terjadi. Dikotomi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada jenjang PT tentu saja dibuka berbagai jurusan, baik dalam cabang ilmu keislaman, ataupun jurusan lainnya, seperti teknik, kedokteran, kimia, fisika, sastra, politik dll. sehingga peserta didik dapat memilih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. </p>
<p>Dari model sistem pendidikan Islam seperti inilah maka kekhawatiran akan munculnya dikotomi ilmu agama dan ilmu duniawi tidak akan terjadi. Dikotomi ilmu itu hanya terjadi pada masyarakat sekuler-kapitalistik, tidak dalam masyarakat Islam.<span id="more-56"></span></p>
<p>Berkenaan dengan hal inilah generasi yang akan dibentuk adalah SDM yang mumpuni dalam bidang ilmunya dan sekaligus dia memahami nilai-nilai Islam, serta berkepribadian Islam yang utuh. Tidak akan terjadi pemisahan yang berarti antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Sebab dipahami bahwa semua ilmu adalah milik Allah dan kita wajib mengamalkan sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p>Di tingkat perguruan tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Misalnya,  tentang ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme dapat disampaikan untuk diperkenalkan kepada kaum muslimin setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan difahami mengenai cacat-celanya, dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/perguruan-tinggi-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penjurusan dalam Sistem Pendidikan Islam</title>
		<link>http://pendidikan-islam.com/penjurusan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html</link>
		<comments>http://pendidikan-islam.com/penjurusan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 23:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Silmi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Metode Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Model Pengajaran]]></category>

		<category><![CDATA[penjurusan]]></category>

		<category><![CDATA[sistem pendidikan islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikan-islam.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Setelah siswa menyelesaikan 30 periode pendidikan, mereka akan memilih jurusan-jurusan yang secara spesifik melatih kemampuan mereka secara praktis dalam kehidupan nyata.
Berbeda dengan saat ini, bagi siswa yang memiliki kemampuan diijinkan beberapa jurusan sekaligus, tidak harus hanya satu jurusan saja. Sehingga mereka bisa memiliki multi kemampuan, menguasai fiqh, sekaligus ahli pertanian dan perdagangan. Menguasai bahasa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah siswa menyelesaikan 30 periode pendidikan, mereka akan memilih jurusan-jurusan yang secara spesifik melatih kemampuan mereka secara praktis dalam kehidupan nyata.<span id="more-54"></span></p>
<p>Berbeda dengan saat ini, bagi siswa yang memiliki kemampuan diijinkan beberapa jurusan sekaligus, tidak harus hanya satu jurusan saja. Sehingga mereka bisa memiliki multi kemampuan, menguasai fiqh, sekaligus ahli pertanian dan perdagangan. Menguasai bahasa dan sastra, juga ahli kimia, dan seterusnya.</p>
<p>Khusus untuk siswa putri, selain mereka diberi kebebasan memilih jurusan yang diminatinya, dia juga wajib mengambil jurusan kerumahtanggaan. Sehingga nanti tidak ada ceritanya seorang perempuan tidak mampu mengurusi tugas-tugas rumahtangga. Karena ketika seorang wanita telah menikah, dia adalah al ‘umm wa rabbatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikan-islam.com/penjurusan-dalam-sistem-pendidikan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
